Kapan Malam (Lailatul Qadar) di Tahun Ini?

  • 9 min read
  • May 20, 2020

Kapan Malam (Lailatul Qadar) di Tahun Ini?

Ini akan selalu menjadi pertanyaan yang paling sering ditanyakan kaum muslimin di Indonesia pada setiap tahunnya, “kapan lailatul qadar 2018“, “kapan lailatul qadar 2019“, “kapan lailatul qadar 2020“, “kapan lailatul qadar 2021“, “kapan lailatul qadar 2022“, dan akan terus seperti itu setiap tahun nya.

Tanda nya apa? Ini pertanda banyak kaum muslimin yang antusias mencari tahu tentang waktu kapan terjadinya malam lailatul qadar, dan mencapai puncak nya di 10 hari terakhir Ramadhan, karena biasanya topik tentang lailatul qadar ini mulai populer di 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Jadi, orang-orang yang ga ngerti tentang apa itu lailatul qadar juga ikut-ikutan mencari tau tentang lailatul qadar di internet karena topik “kapan malam lailatul qadar” trending di internet, social media, dsb.

Selanjutnya kita akan sebut saja lailatul qadar, tidak lagi malam lailatul-qadar karena lailah sendiri artinya malam. Disebutkan malam lailatul qadar (artinya malam “malam kemulian” atau diartikan juga “malam keputusan”) hanya untuk memudahkan orang awam memahami maksudnya.

Malam itu disebut Lailatul Qadar diartikan malam kemuliaan karena kemuliaannya karena agungnya kemuliaan malam itu dan keutamaannya di sisi Allah, diartikan juga malam keputusan karena pada malam itu Allah menentukan ajal, rizki, dan ketentuan-ketentuan takdir selama satu tahun.
Referensi: https://tafsirweb.com/12905-quran-surat-al-qadr-ayat-1.html

Nah, tanpa berlama-lama, ini adalah kesimpulan kapan lailatul qadar tahun ini. Kesimpulan nya adalah 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, ditekankan lagi pada malam ganjil, tanpa mengabaikan malam genapnya. Dan inilah yang akan terus terjadi, lailatul qadar itu akan berpindah-pindah dari tanggal-tanggal 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, atau tanggal 30 (kalau Ramadhan nya pas lagi genap 30 hari).

ليلةُ القدرِ في العشرِ البواقي

Pertanyaannya: “Terus kalau gak tau tanggal pastinya lailatul qadar, fokus aja 10 hari terakhir?”

Iya, begitu seharusnya. Jadi tidak hanya fokus ke salah satu tanggal di 10 hari terakhir Ramadhan, kalau seperti ini dikhawatirnya ga dapet kemuliaan malam tersebut, apalagi fokus ke satu tanggal saja terus 9 malam lainnya disia-siakan dengan bermalas-malasan, yang seperti ini rugi dan khawatir ga dapet keistimewaan lailatul qadar. Jadi tetap fokus di 10 hari terakhir Ramadhan, kalaupun ada ‘udzur tetap berusaha maksimal, mudah-mudahan masih mendapatkannya walaupun tidak maksimal (amalnya), adapun pahalanya Allah yang Maha Mengetahui kadarnya, apalagi kalau kita ikhlas dan jujur dalam hati “saya akan maksimal kalau tidak ada ‘udzur“. Dan lebih ditekankan lagi di malam ganjilnya.

Kapan Lailatul Qadar Tahun Ini?

Berikut ini penjelasan lengkap dari tulisan Ustadz Arief Budiman, Lc di muslim.or.id

Sudah dijelaskan diatas berdasarkan ayat-ayat al-Quran dan hadits-hadits Nabi yang shahih bahwa Lailatul Qadr terjadi pada satu malam saja dari bulan Ramadhan pada setiap tahunnya, akan tetapi tidak dapat dipastikan kapan terjadinya.

Dan hal ini ada hikmahnya, sesuai dengan hadits yang telah lalu dalam Shahih al-Bukhari (2023) dari Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu `anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu `alaihi wa Sallam bersabda: “… dan mudah-mudahan hal itu lebih baik untuk kalian…”.

Sehingga Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Quranil Azhim (8/451) berkata, “Maksudnya adalah ketidaktahuan kalian terhadap kapan terjadinya Lailatul Qadr itu lebih baik bagi kalian, karena hal itu membuat orang-orang yang betul-betul ingin mendapatkannya akan berusaha dengan bersungguh-sungguh beribadah di setiap kemungkinan waktu terjadinya Lailatul Qadr tersebut, maka dia akan lebih banyak melakukan ibadah-ibadah. Lain halnya jika waktu Lailatul Qadr sudah diketahui, kesungguhan pun akan berkurang dan dia akan beribadah pada waktu malam itu saja

Sehingga banyak sekali hadits-hadits dan atsar-atsar yang menerangkan waktu-waktu malam yang mungkin terjadi padanya Lailatul Qadr.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah (852 H) dalam kitabnya Fat-hul Bari (4/262-266) membawakan lebih dari empat puluh lima pendapat ulama yang berkaitan dengan keterangan kemungkinan waktu-waktu terjadinya Lailatul Qadr

Di antara waktu-waktu yang di terangkan hadits-hadits dan atsar-atsar tersebut adalah sebagai berikut:

    • Pendapat pertama: Lailatul Qadar terjadi pada malam pertama di bulan RamadhanImam Ibnu Katsir rahimahullah (774 H) berkata, “Ini dihikayatkan dari Abu Razin al-‘Uqaili radhiyallahu `anhu, seorang sahabat”.Tafsir al-Quranil Azhim (8/447). Dan kami tidak mendapatkan atsar yang menerangkan hal ini, kecuali apa yang telah dinukilkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitabnya Fat-hul Bari (4/263) dari Ibnu Abi Ashim, dari Anas, beliau berkata, Lailatul Qadr adalah malam pertama di bulan Ramadhan”
    • Pendapat kedua: Lailatul Qadar adalah 17 Ramadhan
      Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Dalam hal ini Abu Dawud telah meriwayatkan hadits marfu’ dari Ibnu Mas’ud, juga diriwayatkan dengan mauquf dari Ibnu Mas`ud, Zaid bin Arqam, dan Utsman bin Abi Al ‘Ash.Dan ini adalah salah satu perkataan Muhammad bin Idris asy-Syafi’i (lebih dikenal Imam Asy-Syafi’i), juga dihikayatkan dari al-Hasan al-Bashri. Mereka semua beralasan karena (malam ke tujuh belas Ramadhan adalah) malam (terjadinya) perang Badr, yang terjadi pada malam Jum’at, malam yang ke tujuh belas dari bulan Ramadhan, dan di pagi harinya (terjadilah) perang Badr, itulah hari yang Allah katakan dalam firman-Nya: “… Di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan…” (QS. al-Anfaal: 41).
      Lihat Tafsir al-Quranil Azhim (8/447)
    • Pendapat ketigaLailatul Qadar di malam ke sembilan belas di bulan Ramadhan. Pendapat ini dihikayatkan dari Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud dan Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhum.
      Lihat Tafsir al-Quranil Azhim (8/447) dan Fat-hul Bari (4/263).
    • Pendapat keempat: Lailatul Qadr Terjadi di malam ke-21 di bulan Ramadhan.
      Sebagaimana diterangkan dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ’anhu, beliau berkata:

      اعتكَف رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم عشرَ الأُوَلِ من رمضانَ، واعتكفْنا معَه، فأتاه جبريلُ فقال : إن الذي تطلُبُ أمامَك، فاعتكَف العشرَ الأوسَطَ فاعتكَفْنا معَه، فأتاه جبريلُ فقال : إن الذي تطلُبُ أمامَك، قام النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ؟طيبًا، صبيحةَ عِشرينَ من رمضانَ، فقال : مَن كان اعتكَف معَ النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فليَرجِعْ، فإني أُريتُ ليلةَ القدْرِ وإني نُسِّيتُها وإنها في العشرِ الأواخِرِ، وفي وِترٍ، وإني رأيتُ كأني أسجدُ في طينٍ وماءٍ . وكان سقفُ المسجدِ جريدَ النخلِ، وما نرى في السماءِ شيئًا، فجاءتْ قزَعةٌ فأُمطِرْنا، فصلَّى بنا النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم حتى رأيتُ أثرَ الطينِ والماءِ . على جبهةِ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم وأرنبتِه، تصديقَ رؤياه

      Rasulullah Shallallahu `alaihi wa Sallam melakukan i’tikaf pada sepuluh hari pertama di bulan Ramadhan, dan kami pun melakukan i’tikaf bersamanya. Lalu Jibril datang dan berkata, “Sesungguhnya apa yang engkau minta (cari) ada di depanmu”, lalu Rasulullah Shallallahu `alaihi wa Sallam berkhutbah pada pagi hari yang ke dua puluh di bulan Ramadhan dan bersabda, “Barangsiapa yang i’tikaf bersama Nabi, maka kembalilah (untuk melakukan i’tikaf)! Karena sesungguhnya aku telah diperlihatkan Lailatul Qadr, dan aku sudah lupa. Lailatul Qadr akan terjadi pada sepuluh hari terakhir pada (malam) ganjilnya, dan aku sudah bermimpi bahwa aku bersujud di atas tanah dan air”. Dan saat itu atap masjid (terbuat dari) pelepah daun pohon kurma, dan kami tidak melihat sesuatupun di langit, lalu tiba-tiba muncul awan dan kami pun dituruni hujan. Kemudian Rasulullah Shallallahu `alaihi wa Sallam shalat bersama kami sampai-sampai aku melihat bekas tanah dan air yang melekat di dahi dan ujung hidung beliau sebagai bukti benarnya mimpi beliau.
      HR al-Bukhari (813), Muslim (1167), dan lain-lain

      Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Hadits ini adalah riwayat paling shahih”.

      Lihat Tafsir al-Quranil Azhim (8/447)

    • Pendapat kelimaLaylatul Qadar Pada malam ke dua puluh tiga di bulan Ramadhan. Sebagaimana diterangkan dalam hadits Abdullah bin Unais radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu `alaihi Wa sallam bersabda,

      أريتُ ليلةَ القدرِ ثم أُنسيتُها . وأراني صُبحَها أسجدُ في ماءٍ وطينٍ . قال : فمُطِرْنا ليلةَ ثلاثٍ وعشرين فصلى بنا رسولُ اللهِ صلى اللهُ عليه وسلم . فانصرفَ وإن أثرَ الماءِ والطينِ على جبهتِه وأنفِه . قال : وكان عبدُاللهِ بنِ أنيسٍ يقولُ : ثلاثَ وعشرين

      Aku telah diperlihatkan Lailatul Qadr kemudian aku dibuat lupa, dan aku bermimpi bahwa aku bersujud di atas tanah dan air”. Maka kami dituruni hujan pada malam yang ke dua puluh tiga. Dan Rasulullah Shallallahu `alaihi wa Sallam shalat bersama kami kemudian beliau pergi sedangkan bekas air dan tanah masih melekat pada dahi dan hidungnya. Dan Abdullah bin Unais radhiyallahu `anhua berkata, “Dua puluh tiga”.

      HR Muslim (1167) dan lain-lain

    • Pendapat keenamPada malam ke 24 di bulan Ramadhan. Sebagaimana diterangkan dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu `anhu, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu `alaihi wa Sallam bersabda,

      ليلة القدر ليلة أربع وعشرين

      Lailatul Qadr malam yang ke dua puluh empat”.
      HR ath-Thayalisi di dalam Musnad-nya (1/288) dan Ahmad dalam Musnad-nya pula (39/323). Imam Ibnu Katsir rahimahullah di dalam Tafsir al-Quranil Azhim (8/447) mengomentari hadits yang diriwayatkan oleh ath-Thayalisi, “sanadnya (terdiri dari) para perawi tsiqat (kuat)”. Namun setelah beliau membawakan pula hadits serupa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, beliau pun berkata, “Pada sanadnya terdapat Ibnu Lahi’ah, dan dia dha’if (lemah). Hadits ini tidak sesuai dengan apa yang telah diriwayatkan oleh Al Bukhari dari Ashbagh, dari Ibnu Wahb, dari ‘Amr bin Al Harits, dari Yazid bin Abi Habib, dari Abul Khair, dari Abu Abdillah ash-Shunaabihi, ia berkata, ‘Bilal seorang muaddzin Rasulullah telah memberitahu kepadaku bahwa Lailatul Qadr dimulai malam ke tujuh dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Maka hadits yang mauquf ini lebih sah. Wallahu A’lam”.
      Dan hadits ini pun dinyatakan dha’if (lemah) sanadnya oleh para pentahqiq Musnad al-Imam Ahmad. Demikian pula Imam al-Albani rahimahullah (1420 H) men-dha’ifkan hadits ini dalam kitabnya Dha’iful Jami’ (4957)

      Pendapat ini telah diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Jabir, al-Hasan, Qatadah, Abdullah bin Wahb. Mereka mengatakan bahwa Lailatul Qadr terjadi pada malam yang ke dua puluh empat.
      Lihat Tafsir al-Quranil Azhim (8/448). Lihat juga tafsir beliau pada surat al-Baqarah ayat 185 (1/505)

    • Pendapat ketujuh: Lailatul-Qadr pada malam ke dua puluh lima (25) di bulan Ramadhan. Sebagaimana diterangkan dalam hadits Abdullah bin Abbas radhiyallahu `anhuma, beliau berkata: Sesungguhnya Nabi Shallallahu `alaihi wa Sallam bersabda,

      التمِسوها في العشرِ الأواخرِ من رمضانَ، ليلةَ القدرِ، في تاسِعةٍ تَبقى، في سابِعةٍ تَبقى، في خامِسةٍ تَبقى

      Carilah Lailatul Qadr pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan, pada malam yang ke sembilan tersisa, malam yang ke tujuh tersisa, malam yang ke lima tersisa
      HR al-Bukhari (2021), Abu Dawud (1381), dan lain-lain.

    • Pendapat kedelapan : Lailatul-Qadar pada malam ke (27) dua puluh tujuh di bulan Ramadhan. Sebagaimana diterangkan dalam hadits yang di keluarkan oleh Imam Muslim dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu `anhu: Dari ‘Abdah dan Ashim bin Abi An Nujud, mereka mendengar Zirr bin Hubaisy berkata,

      سألتُ أُبيَّ بنَ كعبٍ رضيَ اللهُ عنه . فقلتُ : إنَّ أخاك ابنَ مسعوٍد يقول : من يَقُمِ الحولَ يُصِبْ ليلةَ القدرِ . فقال : رحمه اللهُ ! أراد أن لا يتَّكِلَ الناسُ . أما إنه قد علم أنها في رمضانَ . وأنها في العشرِ الأواخرِ . وأنها ليلةُ سبعٍ وعشرين . ثم حلف لا يَستثنى . أنها ليلةُ سبعٍ وعشرين . فقلتُ : بأيِّ شيءٍ تقول ذلك ؟ يا أبا المُنذرِ ! قال : بالعلامةِ ، أو بالآيةِ التي أخبرنا رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ أنها تطلع يومئذٍ ، لا شعاعَ لها

      “Aku pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab, aku berkata, sesungguhnya saudaramu Ibnu Mas’ud berkata, barangsiapa mendirikan shalat malam selama setahun pasti akan mendapatkan Lailatul Qadr”, Ubay bin Ka’ab berkata, “Semoga Allah merahmatinya, beliau bermaksud agar orang-orang tidak bersandar (pada malam tertentu untuk mendapatkan Lailatul Qadr), walaupun beliau sudah tahu bahwa malam Lailatul Qadr itu di bulan Ramadhan, dan terdapat pada sepuluh malam terakhir, dan pada malam yang ke dua puluh tujuh”. Kemudian Ubay bin Ka’ab bersumpah tanpa istitsnaa’ (Bersumpah tanpa istitsnaa’ adalah bersumpah dengan tidak menyebutkan kata “Insya Allah” setelahnya), dan yakin bahwa malam itu adalah malam yang ke dua puluh tujuh. Aku (Zirr) berkata, “Dengan apa (sehingga) engkau berkata demikian wahai Abul Mundzir? (Abul Mundzir adalah kun-yah Ubay bin Ka’ab)”
      Beliau berkata, “Dengan tanda yang pernah Rasulullah kabarkan kepada kami, yaitu matahari terbit pada pagi harinya tanpa sinar yang terik.”.
      HR Muslim (762), Abu Dawud (1378), at-Tirmidzi (793 dan 3351), dan lain-lain

      Demikian pula ditunjukkan oleh hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu `anhu:

      أن رجالًا من أصحابِ النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أُرُوا ليلةَ القدرِ في المنامِ في السبعِ الأواخرِ، فقال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : ( أَرَى رؤياكم قد تواطَأَتْ في السبعِ الأواخرِ، فمَن كان مُتَحَرِّيها فلْيَتَحَرَّها في السبعِ الأواخرِ )

      Dari Ibnu Umar, bahwa beberapa orang sahabat Nabi Shallallahu `alaihi wa Sallam diperlihatkan (bermimpi) Lailatul Qadr pada tujuh malam terakhir, lalu Rasulullah Shallallahu `alaihi wa Sallam bersabda, “Aku kira mimpi kalian telah bersesuaian pada tujuh malam terakhir, maka barang siapa yang ingin mendapatkannya, carilah pada tujuh malam terakhir tersebut”.
      HR Muslim (1165), dan lain-lain.

      Demikian pula hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu `anhu, bahwa Nabi Shallallahu `alaihi wa Sallam bersabda tentang Lailatul Qadr:

      ليلة القدر ليلة سبع وعشرين

      Lailatul Qadr pada malam ke dua puluh tujuh
      HR Abu Dawud (1386) dan lain-lain. Dan Hadits ini di-shahihkan Imam al-Albani rahimahullah dalam Shahih al-Jami’ (1240).

      Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Dan pendapat yang menyatakan bahwa Lailatul Qadr adalah malam ke dua puluh tujuh merupakan pendapat sebagian ulama salaf, dan madzhab Ahmad bin Hanbal, dan riwayat dari Abu Hanifah. Juga telah dihikayatkan dari sebagian salaf, mereka berusaha mencocokkan malam Lailatul Qadr dengan karena kata ini adalah kata yang ke dua puluh tujuh dari malam yang ke dua puluh tujuh dengan firman Allah: (َهي), surat al-Qadr. Wallahu A’lam”.

      Lihat Tafsir Al Quran Al Azhim (8/448). Dikatakan pula bahwa kata (َليلة القدر) ada sembilan huruf, dan kata ini terdapat dalam surat al-Qadr sebanyak tiga kali pengulangan, maka jumlah keseluruhan hurufnya ada dua puluh tujuh. Dan itulah malam Lailatul Qadr. Lihat pula Adhwa’ al-Bayan (9/37)

    • Pendapat kesembilan Pada malam ke dua puluh sembilan (29) di bulan Ramadhan. Sebagaimana diterangkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu `anhu, berkata:

      أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ قالَ في ليلةِ القدرِ إنَّها ليلةٌ سابعةٌ أو تاسعةٌ وعشرينَ إنَّ الملائكةَ تلكَ اللَّيلةَ في الأرضِ أكثرُ من عددِ الحصى

      Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu `alaihi wa Sallam bersabda tentang Lailatul Qadr, “Sesungguhnya malam itu malam yang ke dua puluh tujuh atau ke dua puluh sembilan, sesungguhnya malaikat pada malam itu lebih banyak dari jumlah butiran kerikil”.

      HR Ahmad (16/428 nomor 10734), dan lain-lain. Dan hadits ini dihasankan oleh Imam al-Albani rahimahullah dalam Shahih al-Jami’ (5473), dan Silsilatul Ahadits ash-Shahihah (5/240 no 2205).

      Juga dalam hadits Ubadah bin Shamit radhiyallahu `anhu, beliau bertanya kepada Rasulullah Shallallahu `alaihi wa Sallam tentang kapan (malam kemuliaan) Lailatul Qadr, maka beliau bersabda:

      في رمضانَ فالتمِسوها في العشرِ الأواخرِ فإنَّها في وِترٍ في إحدَى وعشرين أو ثلاثٍ وعشرين أو خمسٍ وعشرين أو سبعٍ وعشرين أو تسعٍ وعشرين أو في آخرِ ليلةٍ فمن قامها ابتغاءَها إيمانًا واحتسابًا ثمَّ وُفِّقتْ له غُفِر له ما تقدَّم من ذنبِه وما تأخَّر

      Di bulan Ramadhan, maka carilah ia pada sepuluh malam terakhir, karena malam itu terjadi pada malam-malam ganjil, pada malam ke dua puluh satu, atau dua puluh tiga, atau dua puluh lima, atau dua puluh tujuh, atau dua puluh sembilan, atau pada akhir malam bulan Ramadhan. Maka barangsiapa menghidupkan malam itu untuk mendapatkannya dengan penuh pengharapan kepada Allah kemudian dia mendapatkannya, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu dan yang akan datang“.
      HR Ahmad (37/386-387, 406). Hadits ini dinyatakan hasan oleh para pen-tahqiq (tahqiq artinya meneliti dengan seksama) Musnad al-Imam Ahmad

    • Pendapat kesepuluh : Lailatul Qadar di malam terakhir di bulan Ramadhan. Sebagaimana diterangkan dalam hadits Ubadah bin Ash Shamit radhiyallahu ‘anhu di atas, dan hadits Abu Bakrah radhiyallahu `anhu, beliau berkata:

      ما أنا بمُلتَمِسِها لشيءٍ سمعتُهُ مِن رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وعلَى آلِه وسلَّمَ إلَّا في العَشرِ الأواخرِ فإنِّي سمعتُهُ يقولُ التَمِسوها في تِسعٍ يبقَينَ أو سَبعٍ يبقَينَ أو خَمسٍ يبقَينَ أو ثلاثٍ أو آخرِ ليلةٍ . قال : وَكانَ أبو بَكرةَ يصلِّي في العشرينَ مِن رمضانَ كصلاتِهِ في سائرِ السَّنةِ فإذا دخلَ العشرُ اجتَهَدَ

      “Tidaklah aku mencari malam Lailatul Qadr dengan suatu apapun yang aku dengarkan dari Rasulullah melainkan pada sepuluh malam terakhir, karena sesungguhnya aku mendengarkan beliau berkata, “Carilah malam itu pada sembilan malam yang tersisa (di bulan Ramadhan), atau tujuh malam yang tersisa, atau lima malam yang tersisa, atau tiga malam yang tersisa, atau pada malam terakhir”.
      Dan Abu Bakrah shalat pada dua puluh hari pertama di bulan Ramadhan seperti shalat-shalat beliau pada waktu-waktu lain dalam setahun, tapi apabila masuk pada sepuluh malam terakhir, beliau bersungguh-sungguh.
      HR at-Tirmidzi (794) dan lain-lain. Dan hadits ini dishahihkan Imam al-Albani rahimahullah dalam Shahih al-Jami’ (1243)

      Dan demikian hadits yang serupa telah diriwayatkan dari Mu’awiyah radhiyallahu `anhu.
      HR Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya (3/330 nomor 2189). Dan hadits ini dishahihkan Imam al-Albani rahimahullah dalam Shahih al-Jami’ (1238)

Inilah waktu-waktu yang diterangkan dari berbagai macam sumber dari kitab-kitab tafsir maupun hadits. Dan jika kita perhatikan kembali, banyak hadits-hadits shahih yang menerangkan bahwa kemungkinan terbesar terjadinya Lailatul Qadr adalah di malam-malam ganjil pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, dan terutama pada malam dua puluh satu (21) dan malam dua puluh tujuh (27).

Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithi rahimahullah berkata,

“Dan tidak pernah ada ketentuan atau pembatasan yang memastikan kapan terjadinya malam Lailatul Qadr pada bulan Ramadhan. Dan ulama telah banyak membawakan pendapat dan nash-nash (keterangan) yang berkaitan dengan kemungkinan terjadinya malam Lailatul Qadr. Di antara perkataan (para ulama) tersebut adalah ada yang sangat umum, bahwa Lailatul Qadr mungkin terjadi pada setahun penuh. Akan tetapi ini tidak mengandung hal yang baru. Dan perkataan ini dinisbatkan kepada Ibnu Mas’ud. Namun, sebetulnya maksud beliau adalah (agar manusia) bersungguh-sungguh (dalam mencarinya). Ada pula yang mengatakan bahwa malam itu (mungkin) terjadi pada bulan Ramadhan seluruhnya. Dan (mereka) berdalil dengan keumuman nash-nash al-Quran. Ada pula yang berkata bahwa malam itu mungkin terjadi pada sepuluh malam terakhir, dan ini lebih khusus dari pendapat sebelumnya. Dan ada yang berpendapat bahwa malam itu terjadi pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir tersebut. Maka, dari sini ada yang berpendapat pada malam ke dua puluh satu, ke dua puluh tiga, ke dua puluh lima, ke dua puluh tujuh, ke dua puluh sembilan, dan malam terakhir; sesuai dengan masing-masing nash yang menunjukkan terjadinya Lailatul Qadr pada malam-malam ganjil tersebut. Akan tetapi, pendapat yang paling masyhur dan shahih (dari nash-nash tersebut) adalah pada malam ke dua puluh tujuh dan dua puluh satu. Dengan demikian, apabila seluruh nash (dalil) yang menerangkan bahwa Lailatul Qadr pada malam-malam ganjil tersebut semuanya shahih, maka besar kemungkinan malam Lailatul Qadr terjadi pada malam-malam ganjil tersebut. Dan bukan berarti malam Lailatul Qadr tersebut tidak berpindah-pindah, akan tetapi (ada kemungkinan) dalam tahun ini terjadi pada malam ke dua puluh satu, dan pada tahun berikutnya terjadi pada malam ke dua puluh lima atau dua puluh tujuh, dan pada tahun berikutnya lagi terjadi pada malam ke dua puluh tiga atau dua puluh sembilan, dan begitulah seterusnya. Wallahu A’lam.

Adhwa’ al-Bayan (9/35-36) dengan sedikit peringkasan.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya pula, “Apakah malam lailatul qadar tertentu pada satu malam? Ataukah berpindah-pindah (berubah-ubah pada setiap tahunnya) dari satu malam ke malam yang lainnya?” Maka beliau pun menjawab dengan jawaban yang serupa dengan perkatan Syaikh asy-Syinqithi rahimahullah dalam tafsirnya tersebut, yaitu berpindah-pindah dan berubah-ubah pada setiap tahunnya. Wallahu A’lam. Lihat Tafsir al-Quranil Azhim (8/450) dan Majmu’ Fatawa Lajnah Da’imah (14/228-229).

Artitel lengkapnya klik https://muslim.or.id/28232-carilah-keutamaan-malam-lailatul-qadar.html

Nah, selesai membaca artikel ini, diharapkan pembaca tidak bingung lagi tentang kapan malam lailatul qadar tahun ini, maupun tahun-tahun berikutnya di bulan Ramadhan. Kalau masih bingung mungkin pembaca cuma baca kesimpulan di akhir artikel ini ya, padahal kesimpulannya ada di awal artikel, hehe.

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *