Kisah Nyata: Tak Dapat Terong Malah Menikahi Wanita Cantik & Kaya

  • 5 min read
  • May 19, 2020

Kisah Nyata: Tak Dapat Terong Malah Menikahi Wanita Cantik & Kaya Kisah nyata yang aneh bin ajaib kalau kata orang. Tapi itulah kenyataannya, buah dari ketaqwaan. Tulisan berwarna biru adalah tambahan komentar dari tulisan aslinya. Di Damaskus (sebuah kota di Syam, sekarang Suriah), ada sebuah masjid besar, namanya Masjid Jami’ At-Taubah. Masjid itu penuh keberkahan. Di dalamnya ada ketenangan dan keindahan. Sejak tujuh puluh tahun, di masjid itu ada seorang syaikh (kita menyebutnya ustadz) pendidik yang alim dan mengamalkan ilmunya, namanya Syaikh Salim Al-Masuthi. Dia sangat fakir sehingga menjadi contoh dalam kefakirannya, dalam menahan diri dari meminta, dalam kemuliaan jiwanya dan dalam berkhidmat untuk kepentingan orang lain. (dan sudah sedari dulu ulama berkorban harta, jiwa, dan seluruh hidupnya untuk agama Allah, untuk Ummat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam, semoga kita bisa mencontoh mereka semampu kita)

Saat itu ada pemuda yang bertempat di sebuah kamar dalam masjid. Sudah dua hari berlalu tanpa ada makanan yang dapat dimakannya. Dia tidak punya makanan ataupun uang untuk membeli makanan. Saat datang hari ketiga dia merasa bahwa dia akan mati, lalu dia berfikir tentang apa yang akan dilakukan. Menurutnya, saat ini dia telah sampai pada kondisi terpaksa yang membolehkannya memakan bangkai (ada beberapa hal yang hukum asalnya terlarang dalam syariat agama islam, tapi jadi boleh -sementara- ketika ada kebutuhan yang darurat, kalau gak dilakukan maka bisa mati, atau semisalnya, semisal memakan bangkai) atau mencuri sekadar untuk bisa menegakkan tulang punggungnya (maksudnya bisa bertahan hidup).

Itulah pendapatnya dalam kondisi semacam ini. Masjid tempat dia tinggal itu, atapnya bersambung dengan atap beberapa rumah yang ada di sampingnya. Hal ini memungkinkan seseorang pindah dari rumah pertama sampai terakhir dengan berjalan di atas atap rumah-rumah tersebut. Maka, dia pun naik ke atas atap masjid dan dari situ dia pindah ke rumah sebelah. Di situ dia melihat orang-orang wanita, maka dia memalingkan pandangannya dan menjauh dari rumah itu. Lalu dia lihat rumah yang di sebelahnya lagi. Keadaannya sedang sepi dan dia mencium ada bau masakan berasal dari rumah itu.

Rasa laparnya bangkit, seolah-olah bau masakan tersebut magnet yang menariknya. Rumah-rumah di masa itu banyak dibangun dengan satu lantai, maka dia melompat dari atap ke dalam serambi. Dalam sekejap dia sudah ada di dalam rumah dan dengan cepat dia masuk ke dapur lalu mengangkat tutup panci yang ada di situ. Di lihatnya sebuah terong besar dan telah dimasak. Lalu dia mengambilnya, karena rasa laparnya dia tidak lagi merasakan panasnya, digigitlah terong yang ada di tangannya dan saat dia mengunyah dan hendak menelannya, dia ingat dan timbul lagi kesadaran beragamanya. (demikianlah iman seseorang, terkadang naik dan turun, ada moment tertentu ketika seorang yang beriman ingin berbuat maksiat, lalu dia ingat Allah kemudian malu untuk meneruskan maksiatnya, semoga kita termasuk golongan yang senantiasa diberikan hidayah oleh Allah di setiap keadaan).

Langsung dia berakta, A’udzu billah! (artinya aku berlindung kepada Allah -dari perbuatan ini-) Aku adalah penuntut ilmu (ilmu agama) dan tinggal di masjid, pantaskah aku masuk ke rumah orang dan mencuri barang yang ada di dalamnya?’

Dia merasa bahwa ini adalah kesalahan besar, lalu dia menyesal dan beristighfar kepada Allah, kemudian mengembalikan lagi terong yang ada di tangannya. Akhirnya dia pulang kembali ke tempatnya semula. Lalu dia masuk ke dalam masjid dan duduk mendengarkan syaikh (Syaikh Salim Al-Masuthi) yang saat itu sedang mengajar. Karena terlalu lapar dia hampir tidak bisa memahami apa yang dia dengar.

Ketika majelis (pengajian) itu selesai dan orang-orang sudah pulang, datanglah seorang perempuan yang menutup tubuhnya dengan hijab -saat itu memang tak ada perempuan, kecuali dia memakai hijab-, (artinya semua wanita muslimah di masa lampau paham wajib nya menutup aurat dan memakai hijab, sebelum racun syubhat/kerancuan bahwa “hijab tidak wajib” menyebar di kalangan muslimah seperti di zaman sekarang, Allahul-musta’an) kemudian perempuan itu berbicara dengan syaikh Salim. Sang pemuda tidak bisa mendengar apa yang sedang dibicarakannya. (dan memang adabnya tidak boleh nimbrung di antara pembicaraan 2 orang, nguping)

Akan tetapi, secara tiba-tiba syaikh itu melihat ke sekelilingnya. Tak tampak olehnya kecuali pemuda itu, dipanggillah ia dan syaikh itu (Syaikh Salim Al-Masuthi) bertanya,

‘Apakah kamu sudah menikah?’,

Dijawab, ‘Belum,’.

Syaikh itu bertanya lagi, ‘Apakah kau ingin menikah?’.

Pemuda itu diam.

Syaikh mengulangi lagi pertanyaannya.

Akhirnya pemuda itu angkat bicara, ‘Ya Syaikh, demi Allah! Aku tidak punya uang untuk membeli roti, bagaimana aku akan menikah?’.

Syaikh itu menjawab, ‘Wanita ini datang membawa kabar, bahwa suaminya telah meninggal dan dia adalah orang asing di kota ini. Di sini, bahkan di dunia ini dia tidak mempunyai siapa-siapa kecuali seorang paman yang sudah tua dan miskin’, kata syaikh itu sambil menunjuk seorang laki-laki yang duduk di pojokan.

Syaikh itu melanjutkan pembicaraannya, ‘Dan wanita ini telah mewarisi rumah suaminya dan hasil penghidupannya. Sekarang, dia ingin seorang laki-laki yang mau menikahinya, agar dia tidak sendirian dan mungkin diganggu orang. Maukah kau menikah dengannya?’.

Pemuda itu menjawab, ‘Ya’.

Kemudian syaikh bertanya kepada wanita itu, ‘Apakah engkau mau menerimanya sebagai suamimu?’,

Wanita itu menjawab, ‘Ya’.

Maka syaikh itu memanggil pamannya dan mendatangkan dua saksi kemudian melangsungkan akad nikah dan membayarkan mahar untuk muridnya itu. (Karena memang aslinya pernikahan dalam islam itu sangat mudah, Dalam aqad nikah ada beberapa syarat, rukun dan kewajiban yang harus dipenuhi, yaitu adanya: 1. Rasa suka sama suka dari kedua calon mempelai 2. Izin dari wali 3. Saksi-saksi (minimal dua saksi yang adil) 4. Mahar dan terakhir 5. Ijab Qabul [2])

Kemudian syaikh itu berkata, ‘Peganglah tangan isterimu!’

Dipeganglah tangan isterinya dan sang isteri membawanya ke rumahnya. Setelah keduanya masuk ke dalam rumah, sang isteri membuka kain yang menutupi wajahnya. (karena wanita tersebut mengenakan cadar, dan itu adalah sebuah kemuliaan bagi wanita yang cantik untuk menggunakan cadar untuk menutupi wajahnya, dan ulama mengatakan hukumnya wajib, apalagi bagi yang cantiknya menggoda, sebagian mengatakan sunnah, artinya sangat dianjurkan, baik itu wajib ataupun sunnah untuk menutupi kecantikan wajah di hadapan pria asing).

Tampaklah oleh pemuda itu, bahwa dia adalah seorang wanita yang masih muda dan cantik. Rupanya pemuda itu sadar bahwa ternyata rumah itu adalah rumah yang tadi telah ia masuki (ketika berusaha mencari makan tadi).

Sang isteri bertanya, ‘Kau ingin makan?’,

‘Ya’ jawab suaminya.

Lalu dia membuka tutup panci di dapurnya. Saat melihat buah terong di dalamnya dia berkata:

‘Heran, siapa yang masuk ke rumah dan menggigit terong ini?!’.

Maka pemuda itu menangis (karena malu dan takut kepada Allah) dan menceritakan kisahnya. (Si suami menceritakan kisah tentang dirinya ketika dia mengalami kelaparan dan berusaha mencari makan, kemudian menggigit terong itu tapi kemudian tidak jadi karena takut kepada Allah)

Isterinya berkomentar, ‘Ini adalah buah dari sifat amanah, kau jaga kehormatanmu dan kau tinggalkan terong yang haram itu, lalu Allah berikan kepadamu rumah ini semuanya berikut pemiliknya dalam keadaan halal. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu ikhlas karena Allah, maka akan Allah ganti dengan yang lebih baik dari itu’ (Diceritakan oleh Syaikh Ali At-Thanthawi.).

(Ini adalah hadits Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad 5: 363. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahihSyaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali berkata bahwa sanad hadits ini shahih. Adapun tidak disebutnya nama sahabat tetap tidak mencacati hadits tersebut karena seluruh sahabat itu ‘udul yaitu baik [3].

Dan inilah keutamaan punya istri yang shalihah, bisa Anda bayangkan ketika perempuan itu adalah orang yang tidak mengerti agama? Mungkin suaminya tadi langsung diusir dari rumahnya, tapi hal-hal lainnya yang tidak mencerminkan perbuatan orang beriman, karena tidak paham agama.)

Sumber: Kisah-Kisah Nyata Tentang Nabi, Rasul, Sahabat, Tabi`in, Orang-orang Dulu dan Sekarang, karya Ibrahim bin Abdullah Al-Hazimi, penerjemah Ainul Haris Arifin, Lc. (alsofwah.or.id)
Artikel www.KisahMuslim.com

 
Kisah Nyata: Tak Dapat Terong Malah Menikahi Wanita Cantik & Kaya

 

[2] Referensi: https://almanhaj.or.id/3230-syarat-rukun-dan-kewajiban-dalam-aqad-nikah.html

[3] Referensi: https://rumaysho.com/9596-meninggalkan-sesuatu-karena-allah.html

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *