Mulia bukan dengan Harta – Kisah Raja Faisal vs Amerika

  • 2 min read
  • Jun 19, 2020

Mulia bukan dengan Harta

Sebuah realita sejarah yang tidak akan pernah terlupakan. Ketika terjadi peristiwa perang Yom Kippur (Oktober 1973), antara negara Israel yang didukung oleh koalisi-koalisinya, Amerika, Inggris, Perancis melawan koalisi negara-negara Arab.

Ilustrasi Kemuliaan Islam

Pada tanggal 17 Oktober 1973, raja Faisal dari Saudi Arabia yang mewakili negara-negara produsen minyak di Timur Tengah menetapkan untuk mengurangi produksi minyaknya untuk negara-negara Barat hingga hanya tinggal 5% saja, itupun dengan meninggikan harga jual ke mereka. Dan ini merupakan pukulan telak bagi mereka dan menyebabkan krisis energi yang sangat menyusahkan bagi kehidupan mereka yang sangat bergantung kepada energi minyak bumi.

Namun hal ini tidak membuat mereka jera. Bahkan presiden Amerika kala itu, Nixon (Richard Milhous Nixon presiden Amerika ke-37 sejak January 9, 1913 s/d April 22, 1994) malah memberikan bantuan kepada negara Israel sebesar $ 2,2 miliyar pada tanggal 19-nya (2 hari kemudian). Dan ini menyebabkan negara-negara Saudi Arabia, Emirat, Aljazair, Maroko, Kuwait, Irak, Libya, memutuskan untuk meng-embargo Amerika Serikat dari minyak mereka! Dan ini menyebabkan krisis energi besar-besaran di Amerika. Antrian bensin di mana-mana.

Tersebar di kala itu, slogan raja Faisal yang terkenal: “Darah Arab atau Minyak Arab”! Dan ini membuat Amerika melemah dan berupaya untuk bernegosiasi dengan raja Faisal. Mereka mengirim Menlu nya, Henry Kissinger untuk menemui raja Faisal.

Ketika pesawatnya melandas di bandara internasional Riyadh, Henry dijemput oleh pasukan keamanan raja yang mengendarai unta. Dan Henry diajak menemui raja Faisal, yang menyambutnya bukan di dalam istananya, namun di dalam kemah ala Arab badui.

Ketika memasuki kemah itu, Henry masuk dengan membungkukkan tubuhnya untuk memasuki kemah tersebut, dan disambut dengan duduk lesehan ala Arab badui pada umumnya. Tersebar semerbak bau kopi Arab di tengah-tengah mereka, juga disajikan susu dan kurma.

Sambutan seperti ini sebagai pelajaran bagi Henry Kissinger, bahwa mereka bisa kembali hidup ala nenek moyang mereka yang sudah beribu-ribu tahun hidup seperti ini; kemah, unta, susu dan kurma! Raja Faisal berkata, “Kami dan nenek moyang kami hidup seperti ini beribu-ribu tahun. Dan kami akan kembali hidup seperti ini!

Kissinger mencoba berbasa-basi seraya berkata, “Pesawat saya kehabisan bahan bakar, jika diperkenankan kami ingin membeli bahan bakar dengan harga yang anda ajukan.

Raja Faisal menjawab, “Saya sudah tua. Maukah anda merealisasikan cita-cita saya sebelum saya meninggal dunia?” Kissinger bertanya, “Apa cita-cita Anda?” Raja Faisal menjawab, “Saya ingin melaksanakan shalat dua rakaat di Masjid al Aqsha!

Segala upaya negosiasi dilakukan oleh Kissinger agar raja Faisal membuka embargo nya, namun raja Faisal tetap tegar pada pendiriannya, dan meminta Amerika Serikat segera menghentikan bantuannya untuk Israel dan mengumumkannya kepada seluruh dunia.

Maka pulanglah Henry Kissinger ke negaranya dengan penuh kegagalan!


Mulia bukan dengan harta dan jabatan, juga bukan dengan fasilitas yang dimiliki, namun kemuliaan adalah ketegaran di atas aqidah dan iman hingga mati! Betapa banyak nama pemimpin dan raja di muka bumi, namun nama-nama yang dikenang di antara mereka, adalah mereka yang tegar mempertahankan iman, harga diri, dan kedaulatan bangsanya!

#Powerful Al Quds Calls On You King Faisal bin Abdulaziz Al Saud

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *