Serial Kitab At-Tauhid Bagian 1

  • 2 min read
  • May 30, 2020

Serial Kitab At-Tauhid Bagian 1
Link artikel ini: https://lakumkitab.com/serial-kitab-attauhid-bag-1/202005/

SERIAL KITAB AT-TAUHID 01

Kitab at-Tauhid adalah sebuah buku karya asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin Ali At-Tamimi rahimahullahu ta’ala (Semoga Allah ta’ala merahmati beliau).

Beliau dilahirkan di kampung ‘Uyainah, dekat dengan Riyadh Pada 1115 Hijriyyah, dan wafat di sebuah kampung bernama Dir`iyyah yang juga dekat dengan Riyadh pada tahun 1206 Hijriyyah.

Lahir dan Wafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

Melalui kitab at-Tauhid ini, dengan mengacu pada dalil Al-Quran dan Al-Hadits, beliau memaparkan hakikat tauhid yang mencakup dua hal berikut ini:

1. Penjelasan bahwa Tauhid merupakan tujuan diciptakannya makhluk dan (tauhid adalah) kewajiban utama seorang hamba kepada Allah Subhaanahu wa ta’aalaa yang harus diwujudkan.

2. Penjelasan tentang perkara-perkara yang bisa membatalkan inti tauhid berupa syirik akbar (syirik besar) atau hal-hal yang membatalkan kesempurnaan tauhid berupa syirik asghar (syirik kecil).

Pada bab 1, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu membuka kitab tauhid ini dengan firman Allah Subhaanahu wa ta’aalaa

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Arab-Latin: wa maa khalaqtul-jinna wal-insa illaa liya`buduun

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan dengan tujuan agar mereka beribadah hanya kepada-Ku
Surat Adz-Dzariyat Ayat 56

Makna ibadah secara bahasa adalah at-tadzallul wal-khudhuu` (artinya: menghinakan dan merendahkan diri).

التذلل

at-tadzallul = menghinakan

الخضوع

al-khudhuu` = merendahkan diri/menunduk

Adapun (makna ibadah) secara istilah:
Ibadah berarti: suatu nama yang mencakup secara menyeluruh segala sesuatu yang dicintai dan di-ridhai oleh Allah, baik itu ucapan atau perbuatan yang lahir (nampak) maupun bathin (tidak nampak, berupa amalan hati).

Berbeda dengan para Raja dan Tuan dari kalangan makhluk yang membutuhkan pelayanan makan dan minum dari para hamba sahaya mereka, Allah justru berbeda. Dia menciptakan manusia dan jin murni dalam rangka beribadah kepada-Nya semata.

Allah Subhaanahu wa ta’aalaa tidak butuh dilayani, tidak butuh makan dan minum dari para hamba-Nya. Justru Allah yang mengatur segenap urusan hamba-Nya, memberi mereka makan dan minum.

Dan, buah manis serta ke-maslahat-an (manfaat) dari ibadah para hamba untuk Allah, justru akan kembali kepada mereka.

Melalui ayat mulia tersebut, asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab hendak menegaskan tujuan utama keberadaan kita di dunia ini adalah untuk beribadah hanya kepada Allah.

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=EKMeZglvmT0&list=PLUuYlj8dcEXbhZuRy_B4Rm3XWVYEL12pM&index=1

Silahkan di-share, semoga menjadi pahala jariyah untuk kita semua.

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *