(Video Islami) Kisah Ashraf Schneider Masuk Islam

  • 4 min read
  • Jun 10, 2020

Kisah Ashraf Schneider Masuk Islam

Ayahnya Ashraf Schneider seorang pastur gereja, dan ibunya seorang penyanyi gereja, maka hal itu membuat Ashraf bercita-cita menjadi pemuka agama di gereja sejak kecil.
Tapi semuanya berantakan ketika dia dapati ibunya memeluk Islam.

https://www.youtube.com/watch?v=T_hPiuCMtnM

Kisah Ashraf Schneider Masuk Islam

Bismillahirrohmanirrohim. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

Hari ini aku ingin berbagi kisah yang selalu ada di hatiku, yaitu berhubungan dengan bagaimana aku menemukan Islam dan bagaimana aku memeluk jalan hidup yang indah ini. Setelah itu aku ingin berbagi apa yang aku temukan di dalam Alquran untuk menjawab pertanyaan yang kusimpan seumur hidupku. Selanjutnya aku akan simpulkan dengan sebuah pesan yang bisa kalian bawa pulang untuk orang-orang tercinta, keluarga, teman-teman, dan terutama teman-teman kerja kalian.

Aku terlahir dan dibesarkan di keluarga Kristen, Ayahku adalah seorang Pastur gereja, ibuku adalah penyanyi gereja. Sejak kecil aku dibesarkan dengan nama-nama para nabi mulai dari Ibrahim dan anak-anaknya sampai dengan Nuh dan kapalnya, Musa dengan keberanian yang hebat membawa kaumnya pada keselamatan. Sejak kecil aku punya hasrat membara untuk mengikuti langkah Ayahku menjadi pemuka agama. Jadi aku dedikasikan diriku untuk cita-cita ini, dan segera kudapatkan podium tempat berbagi cinta kepada Tuhan dan apa yang dulu aku yakini sebagai wahyu-Nya yang murni.

Saat menginjak usia pertengahan 20 tahun, aku mendapat jabatan di gereja di mana aku bisa berbagi, di mana aku bisa menjadi pemimpin pemuda gerejaku. Dan ketika kemandirianku bertambah, kebebasan beragama memanggil, aku mulai bertanya-tanya pada pemuka agama aku (di gereja), yang seringkali tidak mendapatkan jawaban, dan di saat itulah Ibuku mulai membaca tentang Islam dan dia akhirnya memeluk Islam.

Apa yang terjadi padanya adalah dia ingin menulis sebuah artikel untuk majalah lokal mengenai ibadah Haji, jadi dia menghubungi seorang muslim untuk membantunya menulis artikel ini, tetapi pria ini malah pergi haji bersama keluarganya, dan dia mempersilakan Ibuku untuk tidak ragu bertanya.

Gambaran Ibadah Haji di Mekah

Jadi Ibuku menulis sendiri artikel ini, dan ketika dia belajar lebih jauh tentang islam dia jatuh cinta pada agama yang indah ini, dan dimasa itu sebagai pemimpin pemuda dalam sebuah misionaris Kristen, aku menentang (usaha) pencarian ibuku terhadap pengetahuan tambahan (tentang islam) tersebut. Dan kami sering berdebat (tapi) dengan kasih sayang, (karena bagaimana pun) dia tetap ibuku. Tetapi aku masih ingat di masa-masa tersebut, ketika para pemuda berkumpul untuk (ritual) misa di rumah, aku sedikit mengencangkan volume suaranya untuk mengajaknya (ibuku) kembali ke Kristen. Dan di saat-saat itu lah aku mulai menyadari bahwa cita-citaku untuk mengikuti jejak Ayahku (menjadi pemuka agama di gereja) mulai memudar.

Kemudian, aku telah memutuskan untuk bekerja di luar negeri di Royal Caribbean Cruises (di Australia) sebagai fotografer dan marketing sales. Saat di bandara (ketika berangkat), saat itu Ibuku memelukku dengan sangat erat, dia mengucapkan doa yang tidak pernah aku lupakan.

Siap berangkat di Bandara

Dia berdoa pada Tuhan baru (dikenal)nya (yakni Allah Subhaanahu wa ta’aalaa, yang dulu tidak aku kenal sama sekali), dia berdoa kepada Allah untuk mengirimkan malaikat-Nya untuk membimbing dan melindungiku dalam perjalanan. Lalu akupun terbang dan mendarat Australia, dan ketika aku membuka koperku, aku pun menyadari bahwa ibuku tidak hanya menyertai aku dengan doa, tapi ibuku juga menyertai kepergianku dengan kitab suci Al-quran.

Pada halaman depan (di Al-Quran) dia menuliskan sebuah catatan

Jika suatu saat aku ingin berdebat dengan muslim, aku harus memahami apa yang keyakinan mereka, Aku harus tahu dari mana mereka (sumber keyakinan orang islam) berasal, bagaimana sejarah mereka.

Dan aku pikir, “ini masuk akal“.

Jadi, karena besarnya rasa cintaku kepada ibuku, aku pun mendedikasikan diriku untuk membaca minimal 1 halaman (dari Al-Quran) setiap malamnya. Lalu, 1 halaman bertambah menjadi 2, lalu 2 halaman menjadi 3 halaman, dan seterusnya sampai akhirnya aku tamatkan (khatam) bacaan Alquran dari awal sampai akhirnya.

Inilah saat-saat dimana pertarungan keimanan dalam diriku mulai bergejolak. Pertarungan keyakinan yang membuat hati, pikiran, dan jiwaku tercabik-cabik. Aku merantau di negri yang jauh, terpisah jarak antara diriku dan semua orang yang aku sayangi, tetapi aku tahu pasti di mana harus berada. Jadi, aku merasa dikhianati oleh pemuka agamaku yang tidak mengajariku tentang Islam. Meskipun begitu, aku tahu bahwa ada sesuatu yang tetap membimbingku.

Aku menyadari bahwasanya (saat itu) aku sama sekali belum mengenal tentang Tuhan (Allah Subhaanahu wa ta’aalaa), akan tetapi aku sangat yakin bahwa Allah bersamaku (untuk membimbingku). Lalu aku mendedikasikan diri untuk memulai studi perbandingan antara Alquran, Taurat, dan Injil (karena ketiganya adalah kita samawi, yakni kitab suci yang diturunkan dari langit, redaksi lakumkitab) Dan, apa yang aku temukan di antara ketiga kitab suci tersebut sangat mengejutkanku, ternyata lebih banyak kecocokannya dibandingkan ketidakcocokan di antara ketiganya. Dari prinsip dasar di dalam al-qur’an terdapat Surat Al-ikhlas yang berbunyi

قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ

qul huwallāhu aḥad

1. Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa.

ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ

allāhuṣ-ṣamad

2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

lam yalid wa lam yụlad

3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,

وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ

wa lam yakul lahụ kufuwan aḥad

4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.

(transkrip belum lengkap)

Di sinilah perjalananku dimulai, dan apa yang ku temukan di dalam Al-quran yang indah ini adalah: semua pertanyaan yang kusimpan seumur hidupku bisa terjawab.

Apa tujuan hidup kita?

Mengapa ada kejahatan di dunia?

Apakah Tuhan itu ada, secara objektif dan rasional?

Maka, setelah aku menemukan jawaban indah ini ada di dalam Al-quran, aku menyadari semua yang selama ini aku cari terjawab di sini (di dalam Al-Quran). Sekarang, aku mendedikasikan diriku untuk berdakwah mengajak orang lain pada jalan hidup (yang indah) ini. Tetapi, saudara-saudaraku, aku ingin bertanya secara pribadi dari hatiku yang paling dalam, Aku sudah menghabiskan 20 tahun hidupku tanpa pernah mendengar tentang (indahnya) Islam.

 

(transkrip belum lengkap)

Gambar: pixabay.com

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *