Video Syaikh Sulaiman: Wanita Haid Boleh Membaca Al-Quran

  • 4 min read
  • May 10, 2020

Apa hukumnya bagi wanita haid membaca Al-Quran ?
Ini adalah fiqih dasar yang harus diketahui oleh setiap muslimah.

Wanita Haid Boleh Membaca Al-Quran, Asalkan… Memenuhi Persyaratan Ini….

Masalah ini terjadi khilaf (beda pendapat di antara para ulama)

Berikut transkrip fatwa syaikh:

Oleh karenanya, pendapat yang lebih nampak benar menurutku, wallahu a’lam, bahwa wanita boleh membaca Al-Quran dari hafalannya ketika ia haid.
Apalagi jika memang ada kebutuhan.
Karena hadits nya (larangan membaca Al-Quran untuk wanita haid) adalah dha’if (lemah).
Qiyas haid dengan junub pun juga tidak benar.
Karena hadats junub bisa ia hilangkan kapan pun ia mau. Kalau dia ingin menghilangkannya, cukup mandi wajib dan hadats pun otomatis hilang.

Adapun hadats haid, TIDAK BISA ia hilangkan kapan pun ia mau. Ini alasan pertama.
Alasan lain, hadats junub tidak akan lama waktunya, adapun hadats haid waktunya cukup lama.
Sehingga wanita haid boleh membaca Al-Quran dari hafalannya.
Dan hukum asal bagi seorang mukmin adalah boleh membaca Al-Quran.
Tidak boleh dilarang kecuali dengan dalil.
Dan tidak ada dalil shahih yang melarang wanita haid dari membaca Al-Quran.

Namun yang lebih berhati-hati bagi wanita haid adalah tidak memperbanyak bacaan Al-Quran, dan hendaknya ia hanya mencukupkan diri dengan bacaan yang diperlukan saja.
Bahasan ini tadi berlaku, apabila wanita haid membaca Al-Quran dari hafalannya.

Adapun hukum menyentuh Al-Quran, maka itu permasalahan lain, dan akan datang pembahasannya insyaa Allah.

Penulis -rahimahullah- berkata: “dan menyentuh Al-Quran (muhaf)”
Maksud penulis, wanita haid dan nifas diharamkan juga menyentuh Al-Quran (mushaf)

Dalilnya adalah firman Allah Subhaanahu wa ta’aalaa

“Tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan”

Dan pendapat yang telah kita kuatkan, bahwa yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah Al-Quran (mushaf), dan maksud dari hamba-hamba yang disucikan adalah orang-orang beriman.

Sehingga konteks ayat ini menunjukkan tidak bolehnya orang yang berhadats menyentuh Al-Quran (mushaf).

Karena Allah ‘Azza wa Jalla berfirman
“Tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan”

Surat al-Waqiah

Tema ayat-ayat ini tadi adalah tentang Al-Quran.
Meskipun yang terakhir disebut adalah lauhul mahfuzh.
Tapi tidak ada dalil valid yang menerangkan bahwa Lauhul Mahfuzh dapat disentuh.
Jadi, tema sebenarnya dari ayat-ayat tersebut adalah tentang Al-Quran. (3:07)

Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam juga bersabda “Tidak ada yang boleh menyentuh Al-Quran kecuali orang yang suci (HR Ad-Darimy no 2312). Dan hadits ini sudah kita jelaskan tadi bahwa statusnya shahih, maksudnya pun jelas. Karena Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwasanya tidak ada yang boleh menyentuh Al-Quran kecuali dalam keadaan suci.
Inilah dalil yang menunjukkan tidak bolehnya menyentuh Al-Quran bagi orang yang masih berhadats.
Dan ini merupakan pendapat beberapa pendapat sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Diantaranya Salman, Ibnu Umar, Sa’ad bin Abi Waqqash, (radhiyallahu ‘anhum) semoga Allah meridhai mereka.

Dan tidak diketahui ada sahabat lain yang yang menyelishi pendapat mereka.

Kesimpulannya, wanita haid diharamkan untuk menyentuh Al-Quran (mushaf), atau menyentuh lembaran yang isinya hanya Al-Quran meskipun hanya satu halaman.

Diharamkan menyentuhnya langsung dengan kulit.
Karena yang namanya menyentuh adalah langsung dengan kulit. Adapun jika menyentuhnya dengan penghalang, terlebih jika penghalangnya terpisah seperti tongkat, pena, atau semacamnya, maka boleh.
Diperbolehkan karena tidak ada dalil yang melarangnya, yang dilarang adalah menyentuh secara langsung.
Begitu juga, ia diperbolehkan menyentuh kitab yang di dalamnya ada ayat-ayatnya, tapi bukan Al-Quran (mushaf), Contohnya :
(1) Kitab tafsir (termasuk Al-Quran terjemah)
(2) Kitab fiqih yang di dalamnya ada ayat-ayatnya, dll.
Yang seperti ini maka boleh disentuh langsung.

Karena kitab-kitab tersebut tidak disebut Al-Quran, tidak juga mushaf. Dan diantara permasalahan baru (kontemporer, red) yang mirip di zaman ini, adalah apabila wanita haid menyentuh HP yang di dalamnya ada Al-Quran nya, lalu ia membaca Al-Quran di HP tersebut sambil ia pegang.
Yang seperti ini hukumnya boleh, tidak terlarang!
Karena yang seperti ini tidak disebut telah menyentuh Al-Quran, karena ada penghalangnya.

Layarnyalah yang menjadi penghalang antara si pembaca dan Al-Quran yang ada di dalam HP.

Al-Quran tersebut ada di dalam HP. Dan HP tidak dibuat khusus untuk Al-Quran saja.
Sehingga yang seperti ini hukumnya boleh, namun kita tetap mengatakan: “Tidak sepatutnya bagi perempuan yang haid untuk terlalu banyak membaca Al-Quran, cukup membacanya sesuai kebtuhan saja.
Seperti jika wanita tersebut adalah seorang guru tahfizh atau pelajar tahfizh, cukup membaca sebanyak yang diperlukan saat itu.

Atau jika khawatir hafalannya akan lupa, maka cukup membaca sesuai kadar yang dapat menjaga hafalannya.

Atau ketika ingin merutinkan bacaan Al-Quran (wirid) setiap harinya, maka silahkan saja, tapi jangan terlalu banyak.
Kita tidak mengatakan haram terlalu banyak membacanya, akan tetapi berhati-hati dan keluar dari perselisihan pendapat dalam masalah ini sangatlah baik.
Na’am

WANITA HAID BOLEH MEMBACA AL-QURAN

Diantara adab-adab membaca Al-Quran:

1. Membaca ta’awwudz (a’udzu billahi minasysyaithanirrajim).

Allah ta’alaa berfirman:

(فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ) (النحل:98)

“Apabila kamu membaca al-Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (Qs. 16:98)

2. Membaca Al-Quran dengan tartil (sesuai dengan kaidah-kaidah tajwid).

Allah ta’alaa berfirman:

(وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلاً) (المزمل:4)

“Dan bacalah al-Qur’an itu dengan tartil.” (Qs. 73:4)

3. Hendaklah dalam keadaan suci.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إني كرهت أن أذكر الله إلا على طهر

“Sungguh aku membenci jika aku berdzikir kepada Allah dalam keadaan tidak suci.” (HR. Abu Dawud, dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albany)

4. Membersihkan mulut sebelum membaca Al-Quran dengan siwak atau sikat gigi atau yang lain.

Berkata Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:

إن أفواهكم طرق للقرآن . فطيبوها بالسواك

“Sesungguhnya mulut-mulut kalian adalah jalan-jalan Al-Quran, maka wangikanlah mulut-mulut kalian dengan siwak.” (Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albany di Shahih Ibnu Majah 1/110-111).

5. Memilih tempat yang bersih.

6. Hendaknya merenungi apa yang terkandung di dalam Al-Quran.

Allah ta’ala berfirman:

(أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافاً كَثِيراً) (النساء:82)

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran? Kalau kiranya Alquran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (Qs. 4:82)

7. Memohon rahmat Allah jika melewati ayat-ayat rahmat dan meminta perlindungan dari kejelekan ketika melewati ayat-ayat adzab.

Di dalam hadist Hudzaifah disebutkan bahwa suatu saat beliau shalat malam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau menceritakan bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Al-Quran ketika shalat:

إذا مر بآية فيها تسبيح سبح وإذا مر بسؤال سأل وإذا مر بتعوذ تعوذ

“Jika melewati ayat yang di dalamnya ada tasbih (penyucian kepada Allah) maka beliau bertasbih, dan jika melewati ayat tentang permintaan maka beliau meminta, dan jika melewati ayat tentang memohon perlindungan maka beliau memohon perlindungan.” (HR. Muslim)

8. Tidak membaca Al-Quran dalam keadaan mengantuk.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إذا قام أحدكم من الليل فاستعجم القرآن على لسانه فلم يدر ما يقول فليضطجع

“Kalau salah seorang dari kalian shalat malam kemudian lisannya tidak bisa membaca Al-Quran dengan baik (karena mengantuk) dan tidak tahu apa yang dikatakan maka hendaklah dia berbaring.” (HR. Muslim)
(Lihat pembahasan lebih luas di At-Tibyan fii Aadaab Hamalatil Quran, An-Nawawy, dan Al-Itqan fii ‘Ulumil Quran, As-Suyuthi (1/276-299), Al-Burhan fii ‘Ulumil Quran, Az-Zarkasyi (1/449-480).

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=vIOn6V7hctQ
Web : shahihfiqih.com
Telegram : @shahihfiqih – bit.ly/1S3K8sW
Instagram : Instagram.com/ShahihFiqih
Youtube : youtube.com/shahihfiqih
Twitter : twitter.com/shahihfiqih
Facebook : facebook.com/shahihfiqih

Link artikel ini: https://lakumkitab.com/wanita-haid-boleh-membaca-alquran/202005/

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *